Tampilkan postingan dengan label Kelas 8. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas 8. Tampilkan semua postingan

Teks Eksplanasi

Menentukan Ciri-ciri Teks Eksplanasi

Perhatikan Contoh Teks Eksplanasi di Bawah ini!

Awal pemerintahan Kabupaten Bandung dimulai sejak Piagam Sultan Agung Mataram pada tanggal 20 April 1641. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Bandung.

Sebelum mencapai bentuk pemerintahan sekarang, Kabupaten Bandung mengalami perkembangan kekuasaan dari zaman ke zaman. Pada masa Kerajaan Pajajaran berkuasa, sekitar akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, di tatar Periangan belum ada bentuk kabupaten, hanya terdiri atas beberapa keprabuan. Istilah keprabuan diambil dari kata prabu yang berarti ‘leluhur’ atau ‘raja muda’.

Pada tahun 1575 yang berkuasa di daerah Pajajaran adalah pemerintahan Islam. Dilanjutkan pemerintahan Mataram (1621–1677) dan pemerintahan Belanda. Saat Mataram berkuasa itulah, nama keprabuan diubah menjadi kabupaten. 

Berdasarkan piagam itu, Sultan Agung diangkat Tumenggung Wiraangunangun sebagai Bupati Bandung. Ketika itu, pemerintahan Kabupaten Bandung berpusat di daerah Krapyak atau Bojongasih. Tepatnya di tepi Sungai Cikapundung, dekat muaranya yaitu Sungai Citarum. Nama Krapyak kemudian berganti menjadi Citeureup. Nama itu hingga kini tetap abadi menjadi salah satu nama desa di Dayeuhkolot.

 Pada masa Bupati Wiranatakusumah II (1794-1829) Ibu Kota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Krapyak (Dayeuhkolot) ke pinggir Sungai Cikapundung atau Alun-alun Bandung sekarang. Pemindahan tersebut berdasarkan perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda,”Deandels”. Peristiwa itu terjadi pada 25 Mei 1810. Alasan pemindahan tersebut akan memberikan prospek baik terhadap perkembangan wilayah itu. Pada saat itu Deandels yang mendapat julukan "Mas Galak" tengah membuat jalan dari Anyer ke Panarukan. Kebetulan jalur tersebut melewati tatar Priangan atau Kota Bandung pada saat sekarang ini. (dokumentasi penulis).

Tampak jelas bahwa teks tersebut menjelaskan sejarah perkembangan Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Teks tersebut menjelaskan peristiwa demi peristiwa yang terjadi selama perkembangan Kabupaten Bandung, mulai dari berdirinya sampai pada periode-periode berikutnya. Teks dengan ciri tersebut dapat disebut eksplanasi, yakni teks yang menjelaskan hubungan peristiwa atau proses terjadinya sesuatu. Dalam contoh di atas, peristiwa yang dijelaskan adalah sejarah perkembangan sebuah kabupaten.

Selain proses perkembangan suatu tempat, teks eksplanasi dapat kamu temukan pada bacaan-bacaan lain yang menjelaskan proses terjadinya fenomena alam, sosial, atau budaya. Mungkin juga pada proses yang berkenaan dengan tubuh manusia.

Adapun kalimat-kalimat yang mengisi setiap paragrafnya berupa fakta. Fakta itu dirangkaikan dengan pola kronologis (urutan waktu) ataupun secara kausalitas (sebab akibat).

Meringkas Teks Eksplanasi

Menentukan Gagasan Umum Teks Eksplanasi

Untuk meringkas teks eksplanasi kita perlu mengawalinya dengan memahami gagasan pokok (ide pokok) dari paragraf-paragrafnya. Berdasarkan gagasan umum itulah, kamu akan memadukannya menjadi teks baru yang lebih ringkas.

Perhatikanlah contoh-contoh berikut! 

  • Sejak masa dahulu, para ahli bintang (astronom) mempelajari bintangbintang di langit malam. Kemudian, mereka berhasil melihatnya melalui teleskop. Sekarang kita dapat mempelajari angkasa luar dari dekat. Dengan pesawat satelit dan kendaraan antariksa yang melakukan perjalanan ke planet-planet, para astronom menemukan berbagai bukti yang luar biasa dari rahasia angkasa luar

Langkah-Langkah Meringkas Teks Eksplanasi

Ringkasan disusun berdasarkan bagian-bagian penting yang ada di dalam teks. Gagasan penting itu biasanya berupa gagasan pokok, yang letaknya bisa di bagian awal ataupun pada bagian akhir paragraf. Gagasan pokok yang ada pada teks itu, lalu kita catat. Hasilnya kamu padukan dan diceritakan kembali dengan menggunakan kata-kata sendiri.

Menelaah Isi, Struktur, dan Kaidah Teks Eksplanasi

Dalam pemaparannya, teks eksplanasi dapat berisi jawaban dari pertanyaan mengapa atau bagaimana.

  1. Teks eksplanasi sebagai jawaban atas pertanyaan mengapa, uraiannya akan bersifat kausalitas.
  2. Teks eksplanasi sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana, uraiannya akan bersifat kronologis.
Perhatikan cuplikan teks berikut!

Pembentukan dan pengawetan suatu fosil mensyaratkan bahwa beberapa struktur terbenam dalam keadaan yang akan dapat memperlambat pembusukan. Fosil yang ditemukan biasanya tidak selalu utuh. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti aktivitas organisme pengurai, aktivitas geologis kulit bumi, pelapukan oleh cuaca dan air, dan dimakan oleh organisme lain. Fosil yang utuh dan lengkap biasanya terawetkan dalam salju atau karena termineralisasi. Fosil yang berupa jejak dapat merupakan tapak kaki, tangan, dan daun tumbuhan.

Cuplikan tersebut menjelaskan proses pembentukan dan pengawetan fosil. Berdasarkan pengembangannya, teks tersebut disusun dengan pola kausalitas. Hubungan antarkalimatnya menyatakan pola hubungan sebab akibat. Dengan demikian, cuplikan tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan "Mengapa fosil itu bisa terawetkan?".

Struktur Teks Eksplanasi

Teks eksplanasi dibentuk oleh bagian-bagian tertentu. Perhatikan kembali contoh teks tentang sejarah Kabupaten Bandung di depan. Struktur tersebut diawali dengan pengenalan fenomena, rangkaian peristiwa, hingga ulasan. Berikut penjelasannya.

  1. Identifikasi fenomena, mengidentifikasi sesuatu yang akan diterangkan. Hal itu bisa terkait dengan fenomena alam, sosial, budaya, dan fenomenafenomena lain. Contoh: Awal pemerintahan Kabupaten Bandung, dimulai sejak Piagam Sultan Agung Mataram pada tanggal 20 April 1641. Tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Bandung.
  2. Penggambaran rangkaian kejadian, sebagai perincian atas kejadian yang relevan dengan identifikasi fenomena. Bagian ini dapat disusun dengan pola kausalitas ataupun kronologis. Contoh: Pada tahun 1575 yang berkuasa di daerah ini adalah pemerintahan Islam. Dilanjutkan pemerintahan Mataram (1621–1677) dan pemerintahan Belanda. Pada saat Mataram berkuasa itulah, nama keprabuan diubah menjadi kabupaten. (kronologis).
  3. Ulasan, berupa komentar atau penilaian tentang konsekuensi atas kejadian yang dipaparkan sebelumnya. Contoh: Dengan demikian tropisme sesungguhnya merupakan gerak dari bagian tumbuhan yang disebabkan adanya rangsangan. Hal itu ternyata berbeda dengan gerak pasti, arah gerak tropisme bergantung pada arah datangnya rangsangan.
Kaidah Kebahasaan Teks Eksplanasi

  1. Menggunakan konjungsi kausalitas, antara lain, sebab, karena, oleh sebab itu, oleh karena itu, sehingga.
  2. Menggunakan konjungsi kronologis (hubungan waktu), seperti kemudian, lalu, setelah itu, pada akhirnya.
  3. Menggunakan kata benda yang merujuk pada jenis fenomena, bukannya pada kata ganti penceritanya. Kata ganti yang dimaksud, misalnya, Kabupaten Bandung, burung, gerhana, kesenian daerah, perkembangan budaya Papua.
  4. Di dalam teks itu pun sering dijumpai kata teknis atau peristilahan, sesuai dengan topik yang dibahasnya.
Pola-Pola Pengembangan Teks Eksplanasi 

Teks eksplanasi dapat disusun dengan berbagai pola, yaitu dengan pola kronologis dan kausalitas. Kedua pola itu dapat pula divariasikan penyusunannya. Kedua pola itu bisa saling melengkapi. Di samping itu, mungkin pula hal itu terselingi dengan pola-pola lainnya, seperti pola definisi, ilustrasi, dan umumkhusus.

Langkah-Langkah Menulis Teks Eksplanasi

  1. Menentukan topik atau suatu kejadian yang menarik, dikuasai, dan aktual.
  2. Menyusun kerangka teks, yakni dengan mengembangkan topik utama ke dalam rincian-rincian topik yang lebih spesifik. Topik-topik itu dapat disusun dengan urutan kronologis atau kausalitas.
  3. Mengumpulkan bahan, berupa fakta atau pendapat para ahli terkait dengan kejadian yang dituliskan dari berbagai sumber, misalnya melalui observasi lapangan ataupun dengan studi literatur.
  4. Mengembangkan kerangka yang telah disusun menjadi teks eksplanasi yang lengkap dan utuh dengan memperhatikan struktur bakunya: identifikasi fenomena/kejadian, proses kejadian, dan ulasan. Perhatikan pula kaidah-kaidah kebahasaan yang berlaku pada teks ekspalansi. 

Menyimpulkan Puisi

 1. Menulis Puisi

Kamu telah mendengarkan dan membaca banyak puisi. Tentu kamu juga tertarik untuk belajar menulis puisi, bukan? Menulis puisi haruslah berawal dari sebuah gagasan atau perasaan. Untuk memunculkan gagasan itu, kamu dapat mencari-carinya dari perjalanan hidupmu ataupun sesuatu yang tengah terasa atau terpikirkan. Gagasan tersebut dapat kamu ekspresikan dengan kata-kata terpilih: yang indah dan penuh makna.

Tentukanlah gagasan paling menarik yang bisa ditulis jadi puisi. Galilah gagasan-gagasan itu. Tuliskan gagasan-gagasan tersebut ke dalam larik-larik dengan menggunakan kata-kata yang tepat dan padat. Perluas pembendaharaan kosakatamu sehingga bisa menciptakan puisi dengan bahasa indah, jelas, dan padat makna. Bacalah buku, e-book, internet, atau sumber-sumber lainnya. Bukubuku tersebut bisa menjadi inspirasimu.

Kosakata tersebut tentu mengandung mengandung makna yang tidak sebenarnya (makna konotasi). Kosakata dalam puisi berbeda dengan kata-kata yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kata-kata dalam puisi singkat, tetapi kaya makna. Struktur katanya pun sering kali mengabaikan kaidahkaidah kebahasaan seperti yang berlaku pada jenis teks lainnya.

Perhatikan Puisi Berikut!

Asaku 
Berlari 
Ku tembus duri 
Bersama ceritaku yang tak bertajuk 
Kemarin…. 
Kugapai kau 
Dalam redup senja 
Bersama resahku yang tak berarah Kini… 
Ku peluk kau 
Dalam rangkaian matahari, bintang, dan bulanku 
Bersama nyanyian rinduku 
Esok Ku sematkan kau 
Dalam degup jantungku… 
Dalam denyut nadiku… lalu… 
Ku ajak kau terbang 
Menuju indah dunia kita 
Selamanya…

Puisi itu berisi luapan resah yang tak berarah. Ungkapan perasaan yang sering dialami para remaja. Ungkapan bahasa romantis dan berlebih-lebihan. Kata-katanya menggambarkan suasana hati dan keadaan jiwa yang penuh gairah dan semangat yang membumbung. Namun, kadang perasaan dipenuhi pula oleh isak tangis dan rintihan yang bersifat sentimental. Puisi itu mengungkapkan nilai-nilai cinta, kasih sayang, dan keindahan dunia yang penuh pesona.

Ada pula kepolosan dan kesederhanaan di dalamnya. Di dalamnya bercerita tentang harapan-harapan besar. Segalanya serbaindah. Namun, apabila tidak menjadi kenyataan, harapan-harapan itu berubah menjadi keputusasaan dan ratapan.

Pilihlah kata-kata yang memiliki makna kias atau konotatif yang bisa menjadi simbol atau lambang dari hal-hal yang diceritakan dalam puisi tersebut. Tak masalah apabila sering mengganti kata-kata dalam puisimu. Hal itu biasa dalam menulis puisi. Hal tersebut merupakan tahap yang harus dilalui dan kamu tidak boleh menyerah apalagi putus asa.

Berlatihlah terus-menerus untuk menulis puisi yang baik. Perbanyak membaca puisi di majalah, koran, atau buku puisi dengan maksud menambah wawasanmu dalam berpuisi.

2. Pembacaan Puisi yang Baik

a. Puisi Naratif 

Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Puisi ini terbagi ke dalam beberapa macam, yaitu balada dan romansa.

Balada adalah puisi yang berisi cerita tentang orang-orang perkasa ataupun tokoh pujaan. Contohnya Balada Orang-orang Tercinta dan Blues untuk Bonnie karya WS Rendra.

Romansa adalah jenis puisi cerita yang menggunakan bahasa romantik yang berisi kisah percintaan, yang diselingi perkelahian dan petualangan. Rendra juga banyak menulis romansa. Kirdjomuljo menulis romansa yang berisi kisah petualangan dengan judul ”Romance Perjalanan”. Kisah cinta ini dapat juga berarti cinta tanah kelahiran seperti puisi-puisi Ramadhan K.H.

b. Puisi Lirik

Jenis puisi ini terbagi ke dalam beberapa macam, misalnya elegi, ode, dan serenada.

Elegi adalah puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya "Elegi Jakarta" karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di Kota Jakarta.

Serenada ialah sajak percintaan yang dapat dinyanyikan. Kata "serenada" berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam Empat Kumpulan Sajak. Misalnya "Serenada Hitam", "Serenada Biru", "Serenada Merah Jambu", "Serenada Ungu", "Serenada Kelabu", dan sebagainya. Warna-warna di belakang serenade itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, dan kecewa.

Ode adalah puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, atau sesuatu keadaan. Yang banyak ditulis ialah pemujaan terhadap tokoh-tokoh yang dikagumi. "Teratai" (karya Sanusi Pane), "Diponegoro" (karya Chairil Anwar), dan "Ode buat Proklamator" (karya Leon Agusta) merupakan contoh ode yang bagus.

c. Puisi Deskriptif

Dalam jenis puisi ini, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan/peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang menarik perhatiannya. Puisi yang termasuk ke dalam jenis puisi deskriptif, misaInya satire dan puisi yang bersifat kritik sosial.

  1. Satire adalah puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya. 
  2. Puisi kritik sosial adalah puisi yang juga menyatakan ketidaksenangan penyair terhadap keadaan atau terhadap diri seseorang, namun dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidakberesan keadaan/ orang tersebut. Kesan penyair juga dapat kita hayati dalam puisi-puisi impresionistik yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.

Memilah Unsur-unsur Pembangun Puisi

Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu : Menelaah unsurunsur pembangunan dari puisi yang dibaca atau diperdengarkan.

Unsur-unsur puisi meliputi majas, irama, kata-kata konotasi, dan kata-kata berlambang. Unsur tersebut berfungsi sebagai unsur fisik puisi, yakni unsur yang dapat dikenali langsung oleh pembaca karena sifatnya tersurat. Di samping itu, ada pula unsur batin, yakni unsur yang tersembunyi di balik unsur-unsur fisik. Untuk menemukannya, kamu harus memahami puisi itu dengan baik. Dengan cara demikian, akan tersingkap unsur batin, yang di dalamnya meliputi tema, amanat, perasaan penyair, dan nada atau sikap penyair terhadap pembaca.

Tema adalah pokok persoalan yang akan diungkapkan oleh penyair. Pokok persoalan atau pokok pikiran itu kuat mendesak dalam jiwa penyair sehingga menjadi landasan utama dalam puisinya. Jika desakan yang kuat itu berupa hubungan penyair dengan Tuhan, maka puisinya tersebut bertema ketuhanan. Jika desakan yang kuat itu berupa rasa belas kasih atau kemanusiaan, puisi yang akan terlahir adalah puisi bertema kemanusiaan. Jika yang kuat adalah dorongan untuk memprotes ketidakadilan, tema puisinya adalah protes atau kritik sosial. Perasaan cinta atau patah hati yang kuat juga dapat melahirkan tema cinta atau tema kedukaan hati karena cinta. Tema tersirat dalam keseluruhan isi puisi. Persoalan-persoalan yang diungkapkannya merupakan penggambaran suasana batin penyair. Tema tersebut bisa pula berupa perasaan penyair terhadap kenyataan sosial budaya sekitarnya. Dalam hal ini puisi berperan sebagai sarana protes atau pun sebagai ungkapan simpati dan keprihatinan penyair terhadap lingkungan dan masyarakatnya.

Perhatikan puisi ”Gadis Peminta-minta” karya Toto S. Bachtiar berikut ini. 

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang kebawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi begitu yang kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bias membagi dukaku
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan diatas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak punya lagi tanda.
(1955)


Tema kemanusiaan melingkup puisi tersebut. Penyair dalam puisinya bermaksud menunjukkan betapa tingginya martabat manusia dan bermaksud meyakinkan pembacanya bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama. Perbedaan kekayaan, pangkat, dan kedudukan seseorang, tidak boleh menjadi sebab adanya pembedaan perlakuan terhadap seseorang. Seperti dalam puisi tersebut, penyair bersikap membela martabat kemanusiaan gadis peminta-minta yang disebutnya sebagai gadis kecil berkaleng kecil.

Sebagian besar orang boleh menganggap bahwa pengemis kecil yang memintaminta di pinggir jalan sebagai sampah masyarakat, sebagai manusia yang tidak berharga. Akan tetapi, penyair mengatakan dengan tegas bahwa martabat gadis peminta-minta itu sama derajatnya dengan martabat manusia yang lain.

Menyimpulkan Isi Puisi

1. Isi Puisi

Senja di Pelabuhan Kecil 
Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta 
di antara gudang, rumah tua, pada cerita 
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut, 
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut. 
gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang 
menyinggung muram, desir hari lari berenang 
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak 
dan kini tanah, air tidur, hilang ombak. 
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan 
menyisir semenanjung, masih pengap harap 
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan 
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap. 
(Chairil Anwar, 1946)

Dengan mengenali unsur-unsurnya, puisi itu bisa kamu pahami isinya secara mendalam. Pengenalan unsur-unsur fisik, seperti majas, kata-kata konotatif, perlambangan, dan pengimajiannya, memudahkan kamu untuk mengetahui tema dan amanatnya. Kamu juga akan mengetahui perasaan penyair dan sikapnya terhadap pembaca.

Dengan langkah-langkah seperti itu, kamu dapat mendalami isi puisi ”Senja di Pelabuhan Kecil” sebagai berikut. 

Bait I menceritakan cinta yang sudah tidak dapat diperoleh lagi. Penyair melukiskan keadaan batinnya itu melalui kata gudang, rumah tua, cerita tiang dan temali, kapal, dan perahu yang tiada bertaut. Benda-benda itu semua mengungkapkan perasaan sedih dan sepi. Penyair merasa bahwa benda-benda di pelabuhan itu membisu. 

Bait II: menggambarkan perhatian penyair pada suasana pelabuhan dan tidak lagi kepada benda-benda di pelabuhan yang beragam. Di pelabuhan itu turun gerimis yang mempercepat kelam (menambah kesedihan penyair), dan ada kelapak elang yang menyinggung muram (membuat hati penyair lebih muram), dan desir hari lari berenang (kegembiraan telah musnah). Suasana di pantai itu suatu saat membuat hati penyair dipenuhi harapan untuk terhibur (menemu bujuk pangkal akanan), tetapi ternyata suasana pantai itu berubah. Harapan untuk mendapatkan hiburan itu musnah, sebab kini tanah, air tidur, hilang ombak. Bagaimanakah jika laut kehilangan ombak? Seperti halnya manusia yang kehilangan harapan akan kebahagiaan. Bait ini mempertegas suasana kedukaan penyair. 

Bait III: menggambarkan pikiran penyair lebih dipusatkan pada dirinya sendiri dan tidak lagi kepada benda-benda di alam: pantai dan benda-benda sekeliling pantai. Dia merasa aku sendiri. Tidak ada lagi yang diharapkan akan memberikan hiburan dalam kesendirian dan kedukaannya. Dalam kesendirian itu, ia menyisir semenanjung. Semula ia berjalan dengan dipenuhi harapan. Namun, sesampainya di ujung "sekalian selamat jalan". Jadi, setelah penyair mencapai ujung tujuan, ternyata orang yang diharapkan akan menghiburnya itu malah mengucapkan selamat jalan. Penyair merasa bahwa sama sekali tidak ada harapan untuk mencapai tujuannya. Sebab itu dalam kesendirian dan kedukaannya, penyair merasakan dari pantai keempat sedu penghabisan bisa terdekap. Betapa mendalam rasa sedihnya itu, ternyata dari pantai keempat sedusedan tangisnya dapat dirasakan. 

2. Jenis-Jenis Puisi

a. Puisi Naratif 
Puisi naratif mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Puisi ini terbagi ke dalam beberapa macam, yaitu balada dan romansa.  Balada adalah puisi yang berisi cerita tentang orang-orang perkasa ataupun tokoh pujaan. Contohnya Balada Orang-orang Tercinta dan Blues untuk Bonnie karya WS Rendra.

b. Puisi Lirik 
Jenis puisi ini terbagi ke dalam beberapa macam, misalnya elegi, ode, dan serenada. Elegi adalah puisi yang mengungkapkan perasaan duka. Misalnya "Elegi Jakarta" karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di Kota Jakarta. Serenada ialah sajak percintaan yang dapat dinyanyikan. Kata "serenada" berarti nyanyian yang tepat dinyanyikan pada waktu senja. Rendra banyak menciptakan serenada dalam Empat Kumpulan Sajak. Misalnya "Serenada Hitam", "Serenada Biru", "Serenada Merah Jambu", "Serenada Ungu", "Serenada Kelabu", dan sebagainya. Warna-warna di belakang serenade itu melambangkan sifat nyanyian cinta itu, ada yang bahagia, sedih, dan kecewa. Ode adalah puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, atau sesuatu keadaan. Yang banyak ditulis ialah pemujaan terhadap tokoh-tokoh yang dikagumi. "Teratai" (karya Sanusi Pane), "Diponegoro" (karya Chairil Anwar), dan "Ode buat Proklamator" (karya Leon Agusta) merupakan contoh ode yang bagus

c. Puisi Deskriptif 
Dalam jenis puisi ini, penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan/peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang menarik perhatiannya. Puisi yang termasuk ke dalam jenis puisi deskriptif, misaInya satire dan puisi yang bersifat kritik sosial. 
1) Satire adalah puisi yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, namun dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya.
2) Puisi kritik sosial adalah puisi yang juga menyatakan ketidaksenangan penyair terhadap keadaan atau terhadap diri seseorang, namun dengan cara membeberkan kepincangan atau ketidakberesan keadaan/ orang tersebut. Kesan penyair juga dapat kita hayati dalam puisi-puisi impresionistik yang mengungkapkan kesan (impresi) penyair terhadap suatu hal.

Puisi dan Pengertian Puisi Beserta Unsur-Unsurnya (Indahnya Berpuisi)

 

Selain dalam bentuk prosa (eksposisi), gagasan dapat diungkapkan dalam bentuk puisi. Bahkan, gagasan yang puitis itulah yang sering kamu simak sehari-hari misalnya melalui lagu-lagu. Syair-syair lagu memang banyak yang berupa puisi. Isinya padat makna dan disusun dengan nada-nada yang indah. 
 
Pengertian Puisi
Perhatikan teks berikut!
Hujan Bulan Juni
oleh Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Teks tersebut disebut puisi.Puisi yaitu teks atau karangan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan mengutamakan keindahan kata-kata. Puisi mengungkapkan berbagai hal. Kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan kepada sang Khalik yang kamu ungkapkan dalam bahasa indah. Hanya saja kamu jarang menyadarinya bahwa itu adalah puisi.

Jika hendak mengagungkan keindahan alam, kamu dapat menggunakan pilihan kata yang khas. Kata-kata itu kamu pilih sehingga dapat mewakili dan memancarkan keindahan alam yang kamu kagumi itu.

Perhatikan pula cuplikan teks berikut!
Berdiri aku di tepi pantai
Memandang lepas ke tengah laut
Ombak pulang memecah berderai
Ke ribaan pasir rindu berpaut.

Cuplikan tersebut diambil dari puisi "Laut" karya Amal Hamzah. Jika dibaca, cuplikan puisi itu melukiskan keindahan laut dengan ombaknya yang memecah pantai. Keindahan seperti itu dapat pula kamu rasakan apabila kamu berdiri di tepi pantai. Kamu akan melihat ombak bergulung-gulung memecah tepi pantai, bukan? Pasir-pasir di tepi pantai itu laksana merindukan deburan ombak. Pasir-pasirnya tampak seperti berpegangan untuk kembali ke laut.

Perhatikan contoh lainnya!
Hanyut aku Tuhanku
Dalam lautan kasih-Mu
Tuhan, bawalah aku
Meninggi ke langit ruhani.

Larik-larik itu diambil dari puisi yang berjudul ”Tuhan” karya Bahrum Rangkuti. Puisi tersebut merupakan ekspresi kerinduan dan kegelisahan penyair untuk bertemu dengan sang Khalik. Kerinduan dan kegelisahannya itu diungkapkan kata hanyut, kasih, meninggi, dan langit ruhani. Kata-kata itu menunjukkan dalamnya cinta penyair kepada Tuhan.

Setelah membaca contoh puisi dan analisis puisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa puisi adalah karya sastra yang tercipta dari ungkapan hati seorang penyair.

Unsur-unsur Puisi
Perhatikan kembali teks pusi ”Hujan Bulan Juni”. Sebagaimana teks lainnya, teks memiliki unsur-unsur sebagai berikut.
a. Majas dan Irama
Berbeda dengan teks eksposisi, berita, ataupun teks lain yang telah kamu pelajari puisi merupakan teks yang mengutamakan majas dan mengutamakan irama.
  • Majas (fgurative language) adalah bahasa kias yang dipergunakan untuk menciptakan kesan tertentu bagi penyimak atau pembacanya. Untuk menimbulkan kesan-kesan tersebut, bahasa yang dipergunakan berupa perbandingan, pertentangan, perulangan, dan perumpamaan.
  • Irama (musikalitas) adalah alunan bunyi yang teratur dan berulang-ulang. Irama berfungsi untuk memberi jiwa pada kata-kata dalam sebuah puisi yang pada akhirnya dapat membangkitkan emosi tertentu seperti sedih, kecewa, marah, rindu, dan bahagia.
Perhatikan, misalnya, puisi ”Hujan Bulan Juni”.
  • Terdapat dua majas yang dominan dalam puisi itu.
  1. Majas personifkasi, adalah majas yang membandingkan bendabenda tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti manusia.
  2. Irama (musikalitas) adalah alunan bunyi yang teratur dan berulang-ulang. Irama berfungsi untuk memberi jiwa pada kata-kata dalam sebuah puisi yang pada akhirnya dapat membangkitkan emosi tertentu seperti sedih, kecewa, marah, rindu, dan bahagia.
Perhatikan, misalnya, puisi ”Hujan Bulan Juni”.
  • Terdapat dua majas yang dominan dalam puisi itu.
  1. Majas personifkasi, adalah majas yang membandingkan bendabenda tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti manusia. Dalam puisi itu yang dibandingkan adalah hujan. Hujan memiliki sikap tabah, bijak, dan arif. Sifat-sifat itu biasanya dimiliki oleh manusia.
  2. Majas paralelisme, adalah majas perulangan yang tersusun dalam baris yang berbeda. Kata yang mengalami perulangan dalam puisi itu adalah tak ada yang lebih. Kata-kata itu berulang pada setiap baitnya.
  • Irama puisi itu harus diekspresikan dengan lembut sebagai perwujudan dari rasa kagum dan simpati. Hal itu tampak pada kata-kata pujian yang ditujukan pada ”Hujan Bulan Juni” yang bersikap tabah, bijak, dan arif.
b. Penggunaan Kata-kata Konotasi
Kata konotasi adalah kata yang bermakna tidak sebenarnya. Kata itu telah mengalami penambahan-penambahan, baik itu berdasarkan pengalaman, kesan, maupun imajinasi, dan perasaan penyair. Perhatikan kembali puisi ”Hujan Bulan Juni”. Kata-kata yang bermakna konotasi dalam puisi tersebut sebagai berikut.


c. Kata-kata Berlambang
Lambang atau simbol adalah sesuatu seperti gambar, tanda, ataupun kata yang menyatakan maksud tertentu. Misalnya, rantai dan padi kapas dalam gambar Garuda Pancasila, tunas kelapa sebagai lambang Pramuka. Lambang-lambang itu menyatakan arti tertentu yang bisa dipahami umum. Rantai bermakna perlunya ‘persatuan dan kesatuan bagi seluruh rakyat Indonesia’, padi kapas perlambang ‘kesejahteraan dan kemakmuran’, tunas kelapa berarti ‘anggota Pramuka yang diharapkan menjadi generasi yang serba guna bagi agama, nusa, dan bangsa’.
 

d. Pengimajinasian dalam Puisi
Pengimajinasian adalah kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan khayalan atau imajinasi. Dengan daya imajinasi tersebut, pembaca seolah-olah merasa, mendengar, atau melihat sesuatu yang diungkapkan penyair. Dengan kata-kata yang digunakan penyair, pembaca seolah-olah mendengar suara (imajinasi auditif), melihat benda-benda (imajinasi visual), atau meraba dan menyentuh benda-benda (imajinasi taktil). Sebagai contoh, perhatikanlah mantra berikut!
Hai, si gempar alam
Gegap gempita
Jarum besi akan rumahku
Jarum tembaga akan rumahku
Ular bisa akan janggutku
Buaya akan tongkat mulutku
Harimau menderam dipengriku
Gajah mendering bunyi suaraku
Suaraku seperti bunyi halilintar
Bibir terkatup, gigi terkunci
Jikalau bergerak bumi dengan langit
Bergeraklah hati engkau
Hendak marah atau hendak membinasakan aku
(Wilkinson, 1907: 42—43)

Dari kata-kata yang digunakannya tampaklah bahwa mantra itu menggunakan imajinasi auditif dan imajinasi visual. Dengan kata-kata itu kita bisa membayangkan benda-benda yang digambarkan itu.

Bagaimana Cara Menyajikan Teks Eksposisi? Simak Ulasan Berikut ini

 


Langkah-Langkah Penyajian
Sebagaimana yang telah dipaparkan terdahulu bahwa teks eksposisi menyajikan sejumlah pendapat (argumen). Teks eksposisi bertujuan untuk meyakinkan orang lain. Di dalamnya tersaji pula fakta untuk lebih meyakinkan kebenaran tentang isi pendapat itu. Dalam sistematika penyajiannya, teks eksposisi diawali dengan penyajian tesis (isu, masalah, ataupun suatu pernyataan yang bersifat umum; kemudian diikuti rangkaian argumentasi atau pendapat beserta sejumlah fakta yang menguatkan; diakhiri dengan penegasan ulang.

Langkah-langkah penyajiannya sebagai berikut.

  • Menentukan isu ataupun masalah yang akan dibahas.
  • Membaca berbagai sumber yang berkaitan dengan isu yang dipilih; melakukan sejumlah pengamatan lapangan.
  • Mendafar topik-topik yang berkaitan dengan isu, berdasarkan hasil-hasil membaca dan langkah-langkah pengamatan. Contoh:
  1. Pentingnya penanganan sampah dalam menghadapi datangnya musim penghujan.
  2. Kesemrawutan kehidupan di suatu kota.
  3. Pola hidup masyarakat kota dalam membuang sampah.
  4. Sikap-sikap pemerintah dalam penanganan sampah.
  5. Akibat-akibat pada bencana lingkungan.

  • Menyusun kerangka karangan, struktur teks eksposisi. Topik-topik itu disusun secara sistematis dengan pola berikut. 

  • Mengembangkan kerangka yang telah disusun menjadi teks eksposisi. Dalam tahap ini kamu harus menjadikan topik-topik itu menjadi argumen-argumen jelas dan logis. Di samping itu, kaidah-kaidah kebahasaan perlu diperhatikan.
Kegiatan Penyuntingan
Langkah penyuntingan merupakan langkah pascapenulisan suatu teks. Langkah tersebut bertujuan untuk memperoleh tulisan yang lebih baik. 
Unsur-unsur yang perlu disunting dalam teks eksposisi berkenaan dengan aspek isi, struktur, dan kaidah bahasa.
  • Aspek isi terkait dengan daya tarik isu, kelugasan argumen, dan kelengkapan fakta. Mungkin pula berkenaan dengan keakuratan ataupun ketepatan penggunaan fakta di dalamnya. 
  • Aspek struktur penyajian terkait dengan kelengkapan dan ketepatan susunan antarbagian teks. Berkaitan dengan aspek ini, kamu pun perlu mencermati bagian-bagian teks: tesis, rangkaian argumen, dan penegasan ulang. Berkaitan dengan aspek ini juga rincikan topik-topiknya. Jangan sampai ada bagian atau kalimat yang menyimpang; tidak sesuai dengan isu utama. Kalimat semacam itu disebut juga kalimat sumbang. Mungkin pula susunannya tidak beraturan atau polanya tidak jelas sehingga maksud teks itu sulit dipahami pembaca.
  • Aspek kaidah kebahasaan, terkait dengan ketepatan penggunaan kata sesuai dengan karakteristik dari teks eksposisi. Penyuntingan aspek kebahasaan perlu diarahkan pada keefektifan kalimat-kalimatnya, penggunaan kata, dan penulisan ejaan. Dalam hal ini pemahaman kamu tentang tata bahasa dan EBI sangat penting.

Belajar Menelelaah Struktur dan Kaidah Teks Eksposisi

 

Memahami suatu teks, tentu saja tidak cukup apabila kita belum tahu bagaimana struktur dan kaidah teks tersebut. Begitu juga dengan teks eksposisi.  Pemahaman terhadap struktur teks eksposisi sangatlah penting karena agar kita dapat membedakan teks eksposisi dengan jenis teks yang lain. Berikut ini adalah penjelasannya.

STRUKTUR TEKS  EKSPOSISI

Sama seperti teks-teks lain, teks eksposisi juga memiliki struktur tersendiri seperti berikut ini.

  1. Tesis, yakni berisi  pengenalan isu, masalah, ataupun pandangan penulis secara umum tentang topik yang akan dibahasnya.
  2. Rangkaian argumen, yaitu bagian struktur teks eksposisi yang berisi sejumlah pendapat atau argumen penulis atas tesis yang dikemukakan pada bagian sebelumnya. Pada bagian ini dikemukakan pula sejumlah fakta yang memperkuat argumen-argumen penulis.
  3. Penegasan ulang, sebagai perumusan kembali secara ringkas. Bagian ini sering pula disebut sebagai penutup atau simpulan.
Berikut ini adalah contoh analisis struktur teks eksposisi dengan judul "Nasib Hutan Kita  yang Semakin Suram."

Tesis

Jika Pemerintah tidak cepat bertindak dalam sepuluh tahun mendatang, hutan Sumatra akan musnah dan diikuti oleh musnahnya hutan Kalimantan.

Bagian itu disebut tesis karena mengenalkan permasalahan utama, kemungkinan musnahnya hutan. Bagian itulah yang kemudian menjadi fokus utama pembahasan teks tersebut.

Rangkaian Argumen

Pengelolaan hutan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, kecenderungannya justru semakin memburuk. Kebakaran hutan masih terus terjadi; penebangan liar semakin meningkat. Diperburuk lagi dengan rencana pembukaan lahan hutan lindung bagi pertambangan. Keadaan tersebut jelas menambah suram nasib hutan.

Kutipan tersebut merupakan contoh argumen. Argumen atau pendapat yang ada dalam adalah teks “Nasib Hutan Kita yang Semakin Suram” sebagai berikut.

  1. Pengelolaan hutan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
  2. Sebaliknya, kecenderungannya justru semakin memburuk.
  3. Kebakaran hutan masih terus terjadi; penebangan liar semakin meningkat.
  4. Diperburuk lagi dengan rencana pembukaan lahan hutan lindung bagi pertambangan.
  5. Keadaan tersebut jelas menambah suram nasib hutan selama ini.

Penegasan Kembali

Rupanya kedua masalah itu belum cukup. Pemerintah menambah rencana pembukaan kawasan hutan lindung untuk areal pertambangan. Kebijakan tersebut jelas semakin menyempurnakan derita hutan Indonesia.

KAIDAH KEBAHASAAN TEKS EKSPOSISI

Kaidah kebahasaan teks eksposisi adalah sebagai berikut.

  1. Menggunakan kata-kata teknis atau peristilahan yang berkenan dengan topik yang dibahas. Misalkan ketika teks eksposisi yang ditulis berisi tentang hutan, kata teknis yang biasanya muncul adalah hutan lindung, gambut, hutan rawa, sektor kehutanan, dan lain sebagainya.
  2. Menggunakan kata-kata yang menunjukkan hubungan argumentasi (kausalitas) seperti jika, sebab, karena, dan lain sebagainya.
  3. Menggunakan kata kerja mental seperti berasumsi, berpikir, menduga, dan lain sebagainya.
  4. Menggunakan kata perujukan, seperti berdasar pada ..., merujuk pada pendapat ..., dan lain sebagainya.
  5. Menggunakan kata-kata persuasif, seperti hendaklah, perlu, harus, diharapkan, dan lain sebagainya.

Bagaimana Cara Menyimpulkan Isi Teks Eksposisi? Simak Penjelasan Berikut Ini!

Seperti yang telah diketahui, teks eksposisi merupakan teks memiliki rangkaian gagasan-gagasan yang disertai dengan fakta. Pada umumnya rangkaian tersebut berada pada bagian tesis dan penegasan ulang. Rangkaian gagasan dalam teks eksposisi ada yang berupa gagasan umum dan gagasan khusus.

Gagasan umum atau biasa dikenal dengan gagasan utama atau ide pokok merupakan gagasan yang menjadi dasar seseorang mengembangkan suatu paragraf. Gagasan umum dapat ditemukan apabila kita sudah membaca keseluruhan teks. Cara lain yang dapat digunakan untuk menemukan gagasan utama adalah dengan mencarinya di awal atau akhir paragraf, tergantung jenis paragrafnya.

Gagasan umum biasanya akan diikuti dengan gagasan penjelas. Gagasan penjelas atau gagasan pendukung dikembangkan dari gagasan umum. Oleh karena itu, perhatikan paragraf di bawah ini untuk memahami apa itu gagasan umum dan gagasan penjelas.

Kebiasaan Masyarakat dalam membuang sampah sembarangan merupakan penyebab dari rusaknya jalan dan banjir. Secarik kertas dibuang oleh seorang pelajaran, sebuah kantong plastik dilempar oleh seorang ibu sepulang dari pasar, dan selembar bungkus rokok dihempaskan oleh seorang bapak, kemudian sampah tersebut berkolaborasi menbjadi satu dengan ribuan sampah lainnya. Sampah-sampah itu bergabung dari berbagai tempat; memacetkan saluran-saluran air; meluap, dan banjir.

Cuplikan paragraf di atas memiliki gagasan umum dan gagasan khusus yang dapat dilihat dalam kolom berikut.

Gagasan Umum

Gagasan Penjelas

Kebiasaan Masyarakat dalam membuang sampah sembarangan merupakan penyebab dari rusaknya jalan dan banjir.

·   Secarik kertas dibuang oleh seorang pelajaran, sebuah kantong plastik dilempar oleh seorang ibu sepulang dari pasar, dan selembar bungkus rokok dihempaskan oleh seorang bapak, kemudian sampah tersebut berkolaborasi menbjadi satu dengan ribuan sampah lainnya.

·   Sampah-sampah itu bergabung dari berbagai tempat; memacetkan saluran-saluran air; meluap, dan banjir.

Lalu, bagaimana cara menyimpulkan isi teks eksposisi? Yakni dengan cara menemukan gagasan umum dari paragraf yang akan disimpulkan, maka kita dapat mengetahui kesimpulan dari paragraf tersebut.

Untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang jenis-jenis paragraf berdasarkan letak gagasan umumnya, simak penjelasan berikut ini.

Paragraf Deduktif

Paragraf deduktif adalah paragraf yang letak gagasan umumnya ada di awal paragraf. Letak gagasan umum dalam paragraf terdapat pada kalimat pertama.

Paragraf Induktif

Paragraf  induktif adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di akhir paragraf atau di kalimat terakhir pada paragraf tersebut.

Paragraf Campuran

Paragraf campuran adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak pada kalimat pertama dan kalimat terakhir. Dalam paragraf ini terdapat dua kalimat utama. Kalimat terakhir paragraf ini merupakan penegasan dari pernyataan yang dikemukakan pada kalimat pertama.

Mengenal Teks Eksposisi dan Unsur-Unsurnya itu Mudah

 


Pengertian Teks Eksposisi

Teks eksposisi adalah karangan yang berisi tentang informasi dan pengetahuan yang disajikan secara singkat. Teks eksposisi bersifat nonfiksi karena di dalamnya terkandung gagasan-gagasan berupa pemikiran suatu topik. Ragam teks eksposisi sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya  dalam kegiatan diskusi.

Unsur-Unsur Teks Eksposisi

Dalam teks eksposisi terdapat unsur-unsur berupa gagasan dan fakta. Gagasan (pendapat atau ide) dalam teks eksposisi berisi tentang pernyataan berupa komentar, penilaian, saran, dorongan, dan bujukan. Contoh: Jika pemerintah tidak cepat bertindak dalam sepuluh tahun mendatang, hutan Sumatra akan musnah. Selain gagasan, juga terdapat fakta dalam teks eksposisi. Fakta adalah keadaan yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar terjadi. Dalam teks eksposisi, fakta berfungsi untuk memperkuat gagasan sehingga diharapkan dapat lebih meyakinkan khalayak. Contoh: Selama bulan Januari-Oktober, 45% dari keseluruhan titik kebakaran terkonsentrasi di provinsi Riau.

Pola-Pola Pengembangan Teks Eksposisi

Berikut ini adalah pola yang dapat digunakan dalam pengembangan teks eksposisi.

  1. Pola Umum Khusus, yakni pola yang ide pokok bagian teksnya ditempatkan pada awal paragraf yang kemudian diikuti oleh ide-ide penjelas.
  2. Pola Khusus Umum, yakni penyajianannya diawali dengan hal-hal yang bersifat khusus dan diikuti dengan hal-hal yang bersifat umum. Bagian terakhir biasanya berisi simpulan dari pendapat-pendapat yang dikemukakan sebelumnya.
  3. Pola ilustrasi, yakni penyajian teks eksposisi yang menyajikan contoh-contoh nyata tentang topik yang dibahas untuk meyakinkan kebenaran suatu gagasan.
  4. Pola Perbandingan, yakni melakukan perbandingan dengan hal lain agar pendapat menjadi lebih meyakinkan.


Mari Belajar Bagaimana Cara Membuat Iklan Yang Baik

 

LANGKAH-LANGKAH PENULISAN

Iklan yang baik, menampilkan produk yang berbeda dari produk lain. Iklan yang baik juga harus memuat pesan yang mudah dicerna dan rasional. Selain itu, iklan harus memperhatikan rumus problema, janji dan bukti. Untuk menulis iklan, maka perhatikan langkah-langkah berikut.

  1. Mulailah iklan dengan pernyataan yang menarik perhatian khalayak, yakni berfokus pada kepentingan atau masalah yang mereka hadapi.
  2. Menawarkan solusi.
  3. Menunjukkan bukti.

PENYUNTINGAN IKLAN

Setelah menyusun iklan, maka kita harus memperhatikan kembali apakah iklan tersebut sudah baik apa belum. Oleh karena itu, agar iklan yang disusun dapat lebih sempurna, maka perlu dilakukan kegiatan penyuntingan (memperbaiki kekurangan dan kesalahan). Untuk menyunting iklan, dapat menggunakan  pertanyaan-pertanyaan terhadap iklan yang telah dibuat seperti berikut ini.

  1. Apakah iklan itu berstruktur lengkap?
  2. Apakah informasi yang disampaikan mudah dipahami?
  3. Apakah kata-katanya ringkas dan persuasif?
  4. Apakah ilustrasinya memikat?
  5. Apakah iklan itu sudah sesuai produk yang dijual serta sesuai pula dengan khalayak sasarannya?

Setelah menyusun pertanyaan-pertanyaan seperti di atas, tentu saja kita dapat mengevaluasi iklan yang telah dibuat sehingga dapat memperbaikinya menjadi iklan yang lebih sempurna.

Simak Cara Menelaah Pola, Struktur, dan Kaidah Kebahasaan Iklan Sebagai Berikut

 


POLA-POLA PENYAJIAN IKLAN

Iklan dapat ditemukan di berbagai tempat dan sepanjang waktu. Iklan bisa saja disajikan secara tertulis, misalnya melalui surat kabar, majalah, internet, atau media lain. Dalam penyajian iklan secara lisan, dapat ditemukan di televisi dan radio. Berikut merupakan pola-pola penyajian iklan berdasarkan media yang digunakan.

1. Iklan Media Cetak

Karakter utamanya adalah menggunakan bahasa tertulis di dalam penyampaian pesan. Di samping menggunakan kejelasan kata-katanya, iklan media cetak juga mengandalkan desain grafis, seperti warna, bentuk huruf, tata letak, dan gambar-gambar. Iklan di media cetak dibagi beberapa macam berdasarkan berdasarkan keluasan ruang.

  • Iklan Baris, adalah iklan yang pemasangannya berupa baris-baris. Teks yang disajikan sangat terbatas. Tidak ada gambar atau ilustrasi. Teks pun banyak mengalami penyingkatan. Iklan baris pada umumnya dimanfaatkan oleh perorangan atau perusahaan-perusahaan kecil. Contoh iklan baris: | JUAL RMH SEMI VILLA LS 174. AIR BAGUS, CCK UTK USAHA. HUB. 081989 |
  • Iklan Kolom, adalah iklan yang pemasangannya dalam media berupa kolom-kolom. Oleh karena itu, bentuknya cukup besar, biasanya juga menyertakan gambar. Selain itu, juga dikenal iklan display, Iklan display memiliki ukuran yang lebih besar dari iklan kolom. 
2. Iklan Elektronik

Iklan elektronik adalah iklan yang berbasis elektronik yang mencakup beberapa unsur seperti berikut.
  • Iklan Radio, iklan ini mengandalkan efek suara, baik itu berupa tuturan, musik, maupun bunyi-bunyi.
  • Iklan Televisi, iklan ini mengandung unsur suara, gambar, dan gerak.
  • Iklan Film, iklan film yang tersaji dalam produk film. Iklan film  biasanya muncul sebelum film diputar.
Berdasarkan isinya, iklan didefinisikan menjadi tiga jenis, antara lain sebagai berikut.

1. Iklan Pemberitahuan

Iklan ini berisi tentang kepentingan untuk memberitahu pada khalayak tentang suatu hal, baik berupa peristiwa, keadaan, atau hal lainnya. Contoh: Iklan pemberitahuan pembubaran perusahaan dan pemberitahuan rapat pemegang saham.

2. Iklan Layanan Masyarakat

Iklan ini bertujuan memberikan penerangan atau penjelasan kepada masyarakat. Contohnya, Iklan tentang pentingnya memakai masker yang disampaikan oleh Dinas Kesehatan.

3. Iklan Penawaran

Iklan ini bertujuan untuk menawarkan produk dan jasa. Iklan penawaran jasa, disebut juga dengan iklan niaga dan iklan lowongan kerja.

STRUKTUR TEKS IKLAN

Iklan pada umumnya memiliki struktur sebagai berikut.
  1. Pengenalan Produk. Bagian ini disebut juga dengan judul teks/ judul iklan.
  2. Pernyataan Persuasif. Berisi pernyataan yang mendorong pembaca atau pendengar untuk berbuat sesuatu. Bagian ini biasanya berupa pernyataan tentang kelebihan produk yang ditawarkan.
KAIDAH KEBAHASAAN IKLAN

Sama seperti teks lainnya, iklan juga memiliki kaidah kebahasaan antara lain sebagai berikut.
  1. Persuasif, yakni iklan berisi  ajakan, bujukan, rayuan, atau dorongan kepada orang lain.
  2. Imperatif, yaitu bersifat memerintah. Hal ini ditandai dengan adanya permintaan, ajakan, dorongan, atau larangan yang ditujukan kepada orang lain.
  3. Berirama, puitis. Dalam iklan biasa ditemukan kalimat-kalimat yang cenderung "enak" didengar dan memiliki rangkaian kata-kata yang mudah dipahami.
  4. Berkesan positif, yakni iklan cenderung selalu berusaha memberi kesan positif kepada orang lain tentang produk yang ditawarkan.
  5. Ringkas, bahasa iklan cenderung ringkas dan tidak berbelit-belit.

Bagaimana Cara Menyimpulkan Informasi dan Pesan dalam Iklan? Simak Penjelasannya Berikut Ini!

Unsur-Unsur Pembentuk Iklan

Setelah mengetahui bagaimana pengertian iklan, slogan, dan poster, yang perlu dipelajari selanjutnya adalah unsur-unsur pembentuk iklan. Dengan mengetahui unsur-unsur pembetuk iklan, maka kita akan tahu apakah iklan tersebut memiliki kualitas yang baik atau tidak. Selain itu, unsur-unsur pembentuk iklan juga berguna untuk dapat memahami iklan secara lebih mendalam. Berikut ini adalah unsur-unsur pembentuk iklan.
  1. Sumber, adalah pemasang iklan atau yang berinisiatif memasang iklan atau penyandang dana dari pemasangan suatu iklan.
  2. Pesan, adalah informasi yang disampaikan. Wujudnya bisa berupa verbal maupun nonverbal.
  3. Media, adalah sarana yang digunakan untuk memasang atau menyampaikan iklan. Dapat berupa media elektronik, cetak, dan sarana-sarana lainnya.
  4. Penerima, adalah objek yang menerima atau menjadi sasaran iklan tersebut.
  5. Efek, adalah perubahan yang terjadi pada penerima, baik itu dari aspek pola sikap, pola pikir, perilaku, kebiasaan, dan pola hidup.
  6. Umpan balik, adalah tanggapan, reaksi atau respons yang dikehendaki dari penerima pesan. Misalnya iklan layanan masyarakat tentang menjauhi narkoba, respons yang diharapkan adalah penerima pesan mau menjauhi dan tidak menggunakan naroba. Contoh lain adalah iklan produk yang mengharapkan produk tersebut akan dibeli oleh penerima iklan setelah mengetahui produk yang diiklankan.
Penyimpulan Maksud Suatu Iklan
Pola penyajian iklan sangatlah beragam. Berikut ini adalah klasifikasi periklanan.
  1. Iklan strategis, adalah iklan yang digunakan untuk membangun merk atau citra positif suatu perusahaan.
  2. Iklan taktis, adalah iklan yang dirancang untuk mendorong konsumen untuk segera merespons merek tertentu. Pada umumnya, iklan jenis ini hanya memberi penawaran khusus dalam jangka pendek.
Selain itu, iklan memiliki fungsi sebagai berikut.
  1. Fungsi Informasional, adalah memberitahukan kepada konsumen tentang karakteristik dan manfaat produk yang akan diporleh.
  2. Fungsi Transformasional, adalah iklan yang berusaha mengubah sikap-sikap yang dimiliki oleh konsumen terhadap merek, pola-pola belanja, gaya hidup, dan lain sebagainya.

Pengertian dan Fungsi Iklan, Slogan, dan Poster

Pengertian Iklan

Iklan adalah teks yang mendorong, membujuk khalayak agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan. Iklan juga dapat diartikan sebagai pemberitahuan kepada khalayak mengenai suatu barang dan jasa. Pada umumnya iklan disampaikan melalui media massa, seperti televisi, radio, surat kabar, dan internet. Unsur yang ditampilkan dapat berupa suara, gerak, kata-kata atau suara.

Fungsi iklan adalah sebagai berikut.

  1. Bagi perusahaan bisnis komersial, untuk menjual barang dan jasa.
  2. Bagi dunia perkantoran, untuk mendapatkan karyawan.
  3. Bagi pemerintah, untuk menyebarkan informasi dan memberikan layanan kepada masyarakat.
  4. Bagi perorangan, untuk membeli dan menjual barang-barang tertentu.
Pengertian Slogan

Slogan adalah perkataan atau kalimat pendek yang dipakai sebagai dasar tuntunan (pandangan hidup); prinsip utama dari suatu usaha, organisasi, dan sebagainya. Slogan seringkali disebut moto atau semboyan. Slogan lebih mengutamakan kepadatan makna dan kehematan kata-kata.

Contoh Slogan:
  • Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. 
  • Tiada hari tanpa prestasi.
  • Rajin pangkal pandai.
Pengertian Poster

Poster adalah plakat (kata-kata dan gambar) yang dipajang di tempat umum. Poster hampir sama dengan iklan , yaitu pemberitahuan suatu ide, hal baru, atau hal penting kepada khalayak. Poster mengandalkan perpaduan gambar dan kata-kata.

Contoh poster tentang penggunaan listrik.

Menyampaikan Informasi dalam Bentuk Berita

Manfaat Berita

Banyak manfaat yang dapat diperoleh setelah membaca berita. Bagi pelajar,  beberapa manfaat yang didapatkan setelah membaca berita antara lain adalah menambah pengetahuan, menambah kosakata, meningkatkan konsentrasi, mengurangi stres, dan membuat otak lebih terlatih.

Penyampaian Berita

Disamping sebagai pendengar dan pembaca berita, kita seringkali dihadapkan untuk menyampaikan kembali informasi yang telah kita dapatkan dari berita tersebut. Untuk menyampaikan kembali berita yang di dengar dan dibaca, maka cukup memahami ide pokok dalam berita tersebut dan menyampaikannya kembali kepada orang lain dengan menggunakan bahasa kita sendiri.

Untuk menyampaikan sebuah berita yang baik kepada pendengar atau pembaca, maka ikut langkah-langkah berikut ini.

  1. Menentukan sumber berita, yakni berupa peristiwa yang menarik dan menyangkut kepentingan banyak orang.
  2. Mendatangi sumber berita, yakni dengan mengamati langsung dan mewawancarai orang-orang (narasumber) yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
  3. Mencatat fakta-fakta dengan berkerangka pada pola ADIKSIMBA.
  4. Mengembangkan catatan itu menjadi sebuah teks berita yang utuh, yang disajikan mulai bagian yang paling penting hingga ke bagian yang kurang penting.
Penyuntingan Berita

Setelah berita yang akan disampaikan tersusun, maka hal yang harus dilakukan adalah menyunting berita tersebut. Menyunting berita adalah memperbaiki kekurangan-kekurangan isi teks yang sudah terbentuk. Untuk menyunting berita, maka aspek-aspek yang harus di perhatikan antara lain sebagai berikut.
  1. Kebenaran isi berita yang ditunjang oleh kekuatan fakta-faktanya.
  2. Kelengkapan isi berita, yang ditandai oleh hadirnya komponen-komponen berita yang terangkum dalam ADIKSIMBA.
  3. Struktur berita, yang dimulai dari bagian penting ke bagian yang kurang penting (kepala berita (lead), tubuh berita, dan ekor berita).
  4. Penggunaan kalimat, yang terkait dengan keefektifan kalimat, kebakuan kata, dan ketepatan ejaan, dan tanda bacanya.

Bagaimana Menentukan Kaidah Kebahasaan Berita? Simak Penjelasannya

Kaidah Kebahasaan Berita

Teks berita memiliki kaidah kebahasaan yang menjadi ciri khas teks tersebut. Teks berita dibentuk dari susunan-susunan kalimat.  Dalam susunan kalimat tersebut terdapat kaidah yang dapat dijadikan sebagai pembeda dengan teks lainnya. Kaidahn yang disebut sebagai berikut:
  1. Penggunaan Bahasa bersifat standar (baku). 
  2. Penggunaan kalimat langsung sebagai variasi dari penggunaan kalimat tidak langsung. Kalimat langsung ditandai dengan adanya tanda petik yang mengapit kalimat. Contoh kalimat langsung : "Tadi malam saya melihat mobil itu menerobos lampu merah".
  3. Penggunaan konjungsi bahwa yang berfungsi sebagai penerang kata yang diikutinya. Hal tersebut terkait dengan pengubahan bentuk kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. Contoh kalimat tidak langsung: Andri berkata bahwa ia tidak dapat bekerja karena sakit
  4. Penggunaan kata kerja mental (kata kerja yang terkait dengan kegiatan dari hasil pemikiran). Contoh kata mental:  membayangkan, berasumsi, berpraduga, berkesimpulan, dan lain sebagainya.
  5. Penggunaan fungsi keterangan waktu. Contoh: Peristiwa itu terjadi pada jam 14.30 WIB.
  6. Penggunaan konjungsi temporal atau penjumlahan. Hal ini berkaitan dengan pola penyajian yang umumnya mengikuti pola penyajian kronologis. Contoh konjungsi temporal: kemudian, selanjutnya, awalnya, akhirnya, dan lain sebagaianya.

Mari Belajar Menemukan Struktur Berita

Struktur Berita
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), struktur berarti cara sesuatu disusun atau dibangun. Struktur berita dapat diartikan sebagai susunan berita. Struktur teks berita tersusun seperti piramida terbalik, artinya semakin ke bawah, informasi yang disampaikan dalam berita tersebut semakin tidak penting. Secara umum teks berita tersusun atas kepala berita (lead), tubuh berita, dan ekor berita.

1. Kepala Berita (lead)
            Kepala berita seringkali memuat unsur-unsur berita. Kepala berita biasanya terletak di awal berita. Kepala berita memiliki isi informasi yang paling penting terhadap apa yang sedang diberitakan.

2. Tubuh Berita
            Tubuh berita memiliki peranan yang tidak kalah penting dengan kepala berita. Di dalam tubuh berita terdapat uraian-uraian dari kepala berita dan berisi informasi yang cukup penting.

3. Ekor Berita
            Bagian yang berisi tentang penjabaran "bagaimana" peristiwa itu terjadi dinamakan sebagai ekor berita. Di bagian ini, biasanya berisi informasi yang kurang penting

Gambaran Struktur Berita

Perhatikan contoh berita di bawah ini!


Dalam contoh berita di atas, dapat dijabarkan struktur beritanya seperti berikut!

Kepala Berita
Pada hari Sabtu, 15 November atau sepuluh hari menjelang Lebaran, Pelabuhan Penyeberangan Merak mulai dipadati truk yang mengangkut barang nonsembilan bahan pokok (non sembako).

Tubuh Berita
Tingginya arus truk dalam dua hari terakhir karena adanya larangan melintas bagi truk nonsembilan bahan pokok (non sembako) pada tanggal 21–25 November. Larangan tersebut berlaku bagi truk bersumbu lebih dari dua, yaitu untuk truk gandengan, truk tempelan, dan truk kontainer.

Ekor Berita
Penumpukan truk bersumbu dua tersebut menyebabkan antrean truk sekitar 100 meter dari pintu masuk kapal. Antrean terjadi di dermaga satu hingga dermaga empat. Akan akibat penumpukan truk itu, beberapa sopir truk harus menunggu sekitar dua hingga empat hari untuk bisa masuk kapal.